Selamat Datang di KPHP Unit XIX Bina Mahawana Sejuk


INFO KAWASAN KPHP
113.563
Luas Area KPHP (Ha)
 
91.040
Luas HP / HPT (Ha)
 
22.523
Luas HL (Ha)
 
35
Jumlah Desa
 
Blok HP / HPT
No
Jenis Blok
Luas Blok (Ha)
Jumlah Petak
1 Perlindungan 7043.132 135
2 Pemanfaatan Kawasan/JasLing/HHBK 14166.32 272
3 Pemanfaatan HHK-HA 38426.68 774
4 Pemanfaatan HHK-HT 14664.39 30
5 Pemberdayaan Masyarakat 16544.71 315
6 Blok Khusus 195.14 6
Blok HL
No
Jenis Blok
Luas Blok (Ha)
Jumlah Petak
1 Inti 10592.07 131
2 Pemanfaatan 11930.43 150
3 Khusus
INFO HHBK
ISI
Hasil 15 Pencapaian : KPHP Unit XIX Bina Mahawana Sejuk [ - ]
Poin Pencapaian
% Pencapaian
Thn Pelaporan
Sisa Tahun
A. Inventarisasi Berkala Wilayah Kelola dan Penataan Hutannya 0 %
B. Pemanfaatan Hutan pada Wilayah Tertentu 0 %
C. Rencana Pemberdayaan Masyarakat 0 %
D. Pembinaan dan Pemantauan (Controlling) yang telah ada Ijin Pemanfaatan Hutan maupun Penggunaan Kawasan Hutan 0 %
E. Penyelenggaraan Rehabilitasi Pada Areal di Luar Ijin 0 %
F. Pembinaan dan Pemantauan Pelaksanaan Rehabilitasi dan Reklamasi Pada pada Areal Ijin Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan 0 %
G. Penyelenggaraan Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam 0 %
H. Penyelenggaraan Koordinasi dan Sinkronisasi Antar Pemegang Ijin 0 %
I. Koordinasi dan Sinergi dengan Instansi dan Stakeholder Terkait 0 %
J. Penyediaaan dan Peningkatan Kapasitas SDM 0 %
K. Penyediaan Pendanaan 0 %
L. Pengembangan Database 0 %
M. Rasionalisasi Wilayah Kelola 0 %
N. Review Rencana Pengelolaan (Minimal 5 tahun sekali) 0 %
O. Pengembangan Investasi 0 %
Informasi Umum

Kehidupan sosial kemasyarakatan terdapat simbol peradaban yang mempersatukan dari berbagai masalah atau persolanan yang mampu mengangkat martabat dan kehormatan yang dikenal dengan "KALOSARA" (Ikatan aturan) atau ikatan tanda hak kepemilikan suatu barang, tanaman dan hewan peliharaan, bahwan barang milik tersebut merupakan hak milik yang tak dapat diganggu gugat atau diambil orang lain yang disebut dengan "Osara" (aturan) dengan suatu tanda yang disebut "Kinalo" ikatan rotan yang dikatkan pada batang pohon atau leher hewan peliharaan. "Okalo" dan "Osara" kemudian disingkat dengan "Kalo Sara" sehingga menjadi lambang dalam mengatur tata kehidupan, pergaulan, kerukunan, kepemilikan dan perdamaian yang berdasarkan norma - norma hukum adat.

Filosofi kebudayaan masyarakat Tolaki dituangkan dalam istilah atau perumpaan dengan budaya O,sara (budaya patuh dan setia terhadap putusan lembaga adat), masyarakat lebih memilih menyelesaikan secara adat sebelum dilimpahkan/diserahkan ke pemerintah dalam hal sengketa maupun pelanggaran sosial yang timbul dalam masyarakat Tolaki. Cinta damai dalam menyelesaikan masalah "Budaya KOHANU" (Budaya malu), sejak dahulu yang merupakan inti dari pertahanan diri. "Budaya MEROU" (Sopan santun dan tata pergaulan) saling hormat menghormati antar sesama sopan santun dalam pergaulan. Filosofi masyarakat adat Tolaki dikenal dengan antara lain:

  1. Inae Merou, Nggoieto Ano Dadio Toono Merou Ihanuno : Barang siapa yang bersikap sopan santun kepada orang lain, maka pasti orang lain akan banyak sopan kepadanya.
  2. Inae Ko Sara Nggoie Pinesara, Mano Inae Lia Sara Nggoie Pinekasara: Barang siapa yang patuh pada hukum adat maka ia pasti dilindungi dan dibela oleh hukum, namun barang siapa yang tidak patuh kepada hukum adat maka ia dikenakan sanksi/hukuman.
  3. Inae Kona Wawe Ie Nggo Modupa Oambo: Barang siapa yang baik budi pekertinya maka akan mendapat kebaikan.

Budaya "Samaturu" "Medule Ronga Mepokoo'aso" (Budaya bersatu, suka menolong dan saling membantu) dalam setiap aktivitas sosial dan pemerintahan berupa acara upacara adat, pesta perkawinan, kematian. Budaya"Taa ehe tinua-tuay" (Budaya bangga terhadap martabat dan jati diri sebagai orang tolaki).

Gunung Oheo adalah nama gunung yang cukup melegenda bagi masyarakat khususnya di wilayah Kabupaten Konawe Utara, kemudian menjadikan lambang logo daerah dan sekaligus nama tempat wilayah kecamatan Oheo. Gunung Oheo membentang sepanjang perkampungan kecamatan Oheo sekitar 45 menit perjalanan darat dari kota Wanggudu ibukota Kabupaten Konawe Utara.

Legenda rakyat masyarakat Tolaki yang mendiami daratan wilayah Konawe Utara adalah Oheo nama seorang petani yang membuka lahan perkebunan tebu yang mempunyai istri seorang bidadari dari khayangan yang bernama "Anawaingguluri", dimana dikisahkan pada saat lahan pertanian tebu memasuki panenan banyak burung nuri yang diilustrasikan sebagai 7 (tujuh) bidadari yang hendak turun mandi disebuah danau kecil yang tak jauh dari kebunnya. Sebelum mandi burung-burung nuri tersebut mencicipi tanaman tebu milik Oheo sehingga tanaman tebu menjadi rusak. Melihat kejadian tersebut alangkah marahnya Oheo dan mencari tahu siapa orang yang merusakak tanaman, alangkah kaget dan terperanjatlah si Oheo ketika melihat para bidadari yang sementara mandi di danau. Kemudian Oheo mengambil selendang dari salah satu bidadari dan menyembunyikan disakau bambu dekat jendela rumahnya sehingga bidadari tersebut tidak bisa kembali ke khayangan. Akhirnya bidadari yang bernama Anawaingguluri tinggal dirumah oheo dan dijadikan istri dengan syarat perjanjian bila mempunyai anak, Oheo harus wajib memandikan dan membersihkan kotoran.

Pada saat Oheo sedang sibuk membersihkan pekarangan rumah, sahutan istrinya untuk membersihkan kotoran anaknya tidak diabaikan, Anawangguluri sangat jengkel dan marah dari balik jendela ia melihat sebuah selendang yang hilang dulu, kemudian selendang tersebut dipakai dan terbang ke khayangan yang sebelum terbang ia berpesan kepada Oheo suaminya untuk menjaga anaknya.

Oheo dan anaknya ingin bertemu dengan ibunya dikahyangan dengan bantuan Ue-Wai (rotan), dengan berbagai persyaratan untuk bertemu dengan istrinya, Oheo diuji harus menumbangkan batu besar kemudian harus memungut padi yang berserakan ditanah tanpa sisa. Dengan bantuan tikus, burung dan hewan lainnya hingga harus menemukan sang istri dalam sebuah tempat tidur diwaktu malam gelap gulita yang mana tempat tidur tersebut sama besar dan bentuknya. Oheo dibantu oleh kunang-kunang, akhirnya dapat menemukan istrinya Anawangguluri dan turun kebumi dengan bantuan kereta kencana yang terbuat dari keranjang "Osu nggolidi"